Pertempuran Perancis

Pertempuran Perancis



Selama Perang Dunia IIPertempuran Perancis, juga disebut Jatuhnya Perancis, adalah invasi Jerman ke Perancis yang dilancarkan pada tanggal 10 Mei 1940, yang mengakhiri Perang Phoney (Perang Palsu). Pada pertempuran ini terdapat dua operasi pertama. Pertempuran ini dimenangkan oleh blok Poros.


Rencana Awal

Pada bulan Oktober 1939, pucuk pimpinan tentara Jerman (OKH, singkatan dari Ober Kommando Des Heeres) sudah mempunyai rencana untuk menyerang sekutu di Eropa Barat. Menurut rencana ini, puluhan divisi akan menyerang dalam garis-garis yang paralel, dengan sayap kanannya sebagai tulang punggung ofensif ini. Rencana ini ada baiknya, sederhana. Tapi buruknya mirip sekali dengan yang pernah digunakan Jerman pada Perang Dunia I, yang dikenal sebagai Rencana "Schlieffen". Disaat itulah muncul Jenderal Erich Von Manstein yang memiliki rencana yang berbeda.

Rencana Manstein

Manstein berencana menerobos pertahanan musuh di wilayah pegunungan Ardennes, karena menurutnya musuh tidak akan menduga suatu ofensif Jerman melalui wilayah pegunungan itu. Manstein lalu menyusun sebuah memorandum kepada OKH yang intisarinya sebagai berikut: Tulang punggung ofensif Jerman bukan sayap kanan, tetapi sayap kiri yang terdiri dari divisi tank dan kendaraan bermotor, yang menerjang kearah sedan melalui Ardennes. Rencana itu lalu dikirim kepada OKH, tetapi jendral-jendral lembaga ini tidak meneruskannya kepada Hitler.


Erich Von Manstein

Operasi penyerangan terhadap Perancis merupakan operasi penyerangan dengan skala besar karena operasi ini juga bertujuan untuk menaklukkan negara-negara Eropa Barat, seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Belgia, hingga kemudian Perancis.
Peperangan ini mengandung dua operasi utama. Yang pertama adalah Fall Gelb (case yellow), yaitu unit armor Jerman menyerang langsung dari Ardennes untuk memotong dan memerangkap unit sekutu yang telah bergerak masuk ke Belgia dan yang kedua adalah operasi Fall Rot (case Red )yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1940, tentara Jerman menyerang Garis Maginot dan masuk ke dalam Perancis.
Garis Maginot
Pada permulaan bulan Januari 1940 terjadilah sesuatu yang menggemparkan. Terjadi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Mechelen incident (Insiden Mechelen). Sebuah pesawat terbang Jerman, karena cuaca buruk, mendarat di wilayah Belgia yang waktu itu belum berperang, tetapi bersimpati kepada sekutu. Di dalam pesawat itu terdapat sebagian dari perintah operasi bagi Armada Udara Pertama yang tidak sempat dimusnahkan sehingga jatuh ke tangan Pemerintah Belgia dan kemudian dikumen itu diteruskan kepada Inggris-Perancis.
Dengan demikian, rahasia perang Jerman bocor!
Hitler murka, Goering lesu sebab dialah pemimpin Luftwaffe yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. “Kadang-kadang ketidakefisienan manusia melampaui segala batas kemungkinan,” kata Hitler kemudian kepada Musolini tentang kecelakaan itu.
Tersiarlah kabar bahwa Hitler karena itu terpaksa mengubah rencana yang semula untuk menyerang Eropa Barat. Akan tetapi, Manstein menyangkal bahwa kecelakaan pesawat terbang itu segera mengubah rencana Hitler yang sudah ada meskipun kebocoran itu menurut Manstein mungkin membuat Hitler lebih bersedia menerima usul-usulnya.
Hal ini terjadi pada tanggal 17 Februari 1940 ketika Hitler mengundang makan sejumlah komandan yang baru diangkat, termasuk Manstein di Reichskanzlei, Berlin. Sehabis makan, Hitler memanggil Manstein ke kamar kerjanya untuk memberi pandangannya tentang rencana menyerang Eropa Barat. Pada awalnya, Hitler manyatakan rasa antipatinya terhadap anak buahnya ini karena Manstein dianggap terlalu arogan, tetapi Hitler diam menyimak kala mendengar pendapat Manstein. Tak diketahui apakah Hitler sudah membaca memorandum yang disampaikan Manstein kepada OKH beberapa bulan berselang, tetapi Manstein terheran-heran tentang cepatnya Hitler dalam menangkap intisari Manstein itu, yaitu memusatkan tenaga pada sayap kiri yang terdiri atas panser dan pasukan bermotor yang akan menerjang melalui pegunungan Ardennes. Hitler yang selalu merasa tertarik pada sesuatu yang orisinal menerima baik rencana Manstein. Kini OKH pun menyetujuinya, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersungguh-sungguh percaya dengan rencana ini, Hitler, Rundstedt, Guderian, dan Manstein sendiri.
Pada tanggal 9 April 1940, Hitler menyerbu Denmark yang menyerah tanpa bertempur, Kemudian Norwegia menyusul diserbu. Norwegia memberi perlawanan, dibantu oleh pasukan pendaratan Inggris, tetapi pada permulaan bulan Mei dipukul mundur. Rencana Manstein (Manstein Plan) akan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 1940, suatu tanggal yang bersejarah bagi Eropa Barat.
Yang akan diserang ialah Belanda, Belgia, lalu kemudian Perancis. Akan tetapi, sehari sebelumnya Admiral Wilhelm Canaris, kepala Abwehr (dinas intelijen Jerman), tetapi musuh Hitler menyuruh Oster, kepala stafnya, untuk memperingatkan atase militer Belanda di Berlin. Peringatan ini sampai kepada dinas rahasia Belanda yang kemudian menyampaikannya tanggal 9 Mei 1940 pukul 21.30 kepada Dr. Van Kleffens, Menteri Luar Negeri Belanda. Isinya adalah “Besok di waktu fajar, bersiaplah.”
Enam jam kemudian, di pagi buta bom-bom Jerman yang pertama dijatuhkan terhadap sasaran-sasaran di Belanda dan Belgia tanpa pernyataan perang. Belanda sengaja menimbulkan banjir di sebagian wilayahnya untuk menaham kemajuan tentara Jerman. Akan tetapi, Jerman melepaskan pasukan payung di belakang wilayah yang tergenang itu. Kota Rotterdan dibom sampai hancur oleh Luftwaffe. Negara yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun ini bertekuk lutut hanya dalam waktu empat hari. Keruntuhan Belgia menyusul dua minggu kemudian.
Sementara itu di Perancis, Pemimpinnya masih menduga bahwa Jerman akan segera menyerang dari arah utara menurut Rencana Schliefen. Pada saat itu jumlah pasukan sekutu jauh lebih kuat dari Jerman, yaitu 130 divisi melawan 100 divisi.
Dunia menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepada tentara Perancis, tentara terbesar di Eropa dan tentara yang sudah menang dalam PD I. Jerman memang memiliki tank, tetapi Perancis pun punya, dan terlebih lagi Perancis memiliki Maginot Lini yang tidak bisa direbut.
Di sinilah mulai bekerja kecemerlangan Rencana Manstein. Dia sengaja menarik perhatian lawannya ke jurusan Belanda dan Belgia yang diserbu oleh Army Group B. Serangan ini dilakukan secara mencolok dan sangat spektakuler. Pasukan payung diterjunkan, 1000 pesawat Luftwaffe dipusatkan di sana, berikut tiga divisi panser. Serangan ini dibuat sangat berisik ‘noisy’
Dengan demikian, Perancis semakin mengira bahwa Army Group B lah yang merupakan tulang punggung serangan, sayap kanan yang terkenal dalam rencana Schliefen.
Rencana Manstein
Oleh karena itu, menyerbulah tentara Perancis-Inggris ke bagian utara Belgia untuk menghadapi sayap kanan yang kokoh itu. Semakin dalam tentara sekutu Perancis-Inggris masuk ke wilayah Belgia, semakin  senanglah hati para jenderal Jerman karena itulah yang Jerman kehendaki. Sesuai dengan apa yang telah dibahas di atas, tulang punggung serangan ini tidaklah terletak pada Group Army B di utara, tetapi pada Group Army A di selatan yang terdiri tidak kurang atas tujuh divisi tank.
Tank Destroyer T-13 milik Belgia sedang diinspeksi oleh tentara Jerman
Secara tak terduga oleh Perancis, menyerbulah ratusan tank ini ke Ardennes di bawah pimpinan Guderian. Setelah menyebrangi Sungai Maas dekat Sedan, lalu tiba di tanah datar secara kilat Blitzkrieg dua ribu tank yang menggelinding cepat ke arah barat, di belakang tentara Perancis-Inggris yang sedang menyerbu ke Belgia Utara.  Akan tetapi, rencana penyerangan ini dalam beberapa hal telah diubah secara fundamental oleh Halder. Rencana Manstein yang telah diubah oleh Halder tidak lagi merupakan rencana yang mempertimbangkan serangan sekunder grup A yang secara simultan menerobos ke selatan. Sebagian besar elemen Blitzkrieg juga dihapuskan. Penyebrangan sungai secara dipaksakan harus dilakukan oleh infanteri. Divisi panser harus menunggu divisi infantri agar nanti dapat bersama-sama menyebrangi sungai tersebut. Dengan demikian, strategi penetrasi masuk ke dalam wilayah masuk tidak lagi milik divisi armor Jerman.

Pada kenyataannya, sebenarnya Guderian dan jenderal-jenderal panser, di antaranya Rommel, mudah untuk tidak patuh mengikuti perintah dan terus melanjutkan gerak serangnya masuk jauh ke dalam Calais dan Dunkirk secara cepat tanpa harus menunggu kedatangan infantri.
Walaupun demikian, hanya dalam beberapa hari, tibalah Guderian di Abeville, Boulogne, Calais, di pantai Samudra Atlantik. Dengan operasi kilat ini, putuslah perang sebab tentara Perancis-Inggris terpotong menjadi dua bagian. Kemenangan gilang gemilang ini adalah hasil dari pelaksanaan yang cemerlang dari dua prinsip peperangan: surprisedan konsentrasi kekuatan.
Ratusan ribu tentara Perancis-Inggris terkurung di Belgia dan terputus dari Paris. Tanggal 18 mei pagi, Churchill yang baru saja menjadi Perdana Menteri Inggris menggantikan Chamberlain dibangunkan oleh suara telepon dari Paris. Terdengar suara Paul Reynaud, PM Perancis yang dengan gugup menyatakan, “Kita telah kalah!”. Churchill tidak mengerti, ia menjawab bahwa hal demikian tidak mungkin cepat terjadi. Pertempuran baru berjalan lima hari. Akan tetapi, Reynaud meneruskan, “Front di Sedan telah bolong. Tank dan panser dalam jumlah besar-besaran mengalir seperti banjir.” Churchill segera menghibur rekannya, tetapi Reynaud tetap berkata, “Kita telah kalah, kita telah kalah!” Churchill akhirnya berjanji akan datang dengan pesawat terbang besoknya di Paris. Pukul 17.30 sore dia masuk ke dalam Gedung Kementerian Luar Negeri Perancis. Di tempat itu PM reynaud, Edouard Daladier, Menteri Pertahanan, dan Jenderal Maurice Gustave Gamelin, pucuk tertinggi pimpinan tentara Perancis menunggu.
Winston Churcill
Pada tanggal 5 Juni 1940, ketika Kota Dunkirk sudah jatuh ke Tangan Jerman, setelah evakuasi tentara Inggris selesai, Hitler memerintahkan 10 divisi pansernya dengan 133 divisi infantri ke selatan, ke arah Paris. Perancis cemas. Divisi-divisi mereka yang dapat dikerahkan, selain lebih sedikit jumlahnya, juga tak begitu terlatih. Hampir semua divisi panser serta tentaranya yang lebih baik justru tak dapat digunakan karena terasing dan terpencil di Belgia utara setelah dipotong oleh serangan Guderian melalui pegunungan Ardennes.
Meskipun beberapa bagian Perancis memberi perlawanan baik, banjir panser Jerman tak dapat mereka tahan. Tanggal 10 Juni Pemerintah Perancis meninggalkan Paris. Empat hari kemudian jatuhlah ibukota itu tanpa pertempuran.Reynaud digantikan oleh Marsekal Petain sebagai perdana menteri dan pada tanggal 17 Juni ia meminta gencatan senjata. Empat hari kemudian gencatan senjata dilaksanakan di hutan Compiegne, persis di dalam gerbong kereta api yang pada tahun 1918 digunakan oleh Marsekal Foch sebagai wakil Perancis dan sekutu menerima kunjungan delegasi Jerman yang memohon gencatan senjata.
Evakuasi Dunkrik
Hitler memasuki gerbong yang bersejarah itu, mengambil tempat kursi yang 22 tahun berselang diduduki Marsekal Foch dan menerima kunjungan delegasi Perancis yang tentu segera merasakan bahwa Hitler memilih tempat bersejarah ini untuk membalas dendam dan mempermalukan Perancis.
Hitler memasuki gerbong yang bersejarah itu, mengambil tempat kursi yang 22 tahun berselang diduduki Marsekal Foch dan menerima kunjungan delegasi Perancis yang tentu segera merasakan bahwa Hitler memilih tempat bersejarah ini untuk membalas dendam dan mempermalukan Perancis.

(Delegasi Perancis tiba di hutan Compiegne, dari kiri ke kanan vice-amiral d’escadre Maurice Athanase Le Luc, général d’aviation Jean-Marie Joseph Bergeret, duta besar Léon Noël (memakai pakaian sipil), Generalleutnant Kurt von Tippelskirch (Jerman), Charles Huntziger, dan seorang perwira Jerman yang tidak diketahui)

(Jenderal Charles Huntziger menandatangani dokumen penyerahan di gerbong perdamaian (Wagon de l’Armistice) di Compiègne, 21 Juni 1940. Penandatanganan dilakukan dua kali, tanggal 21 dan keesokan harinya (tanggal 22). Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani, Huntziger menjadi Sekretaris Perang pemerintahan Vichy Prancis, dan kemudian sebagai panglima pasukan darat (September 1941))

Sekalipun Hitler melakukan blunder, operasi penyerangan Eropa Barat ini tetap terbilang sukses dan gaungnya menyebar ke seluruh daratan Eropa. Bahkan Jerman pun merasa takjub dan pada awalnya memang meragukan kemenangan ini. Sebagian besar dari kalangan Jenderal sama sekali tidak memiliki harapan atas suksesnya Rencana Manstein ini disebabkan adanya berbagai macam alasan, seperti posisi geostrategis Jerman yang tidak menguntungkan ataupun rencana yang terlalu berisiko.
Setelah kesuksesan ini, propaganda Nazi mulai mengklaim bahwa kemenangan ini merupakan hasil dari pemikiran kemiliteran Hitler yang jenius. Hitler memuji Manstein dengan kata-kata, “Kepada semua jenderal, kepada mereka saya menyatakan rencana baru saya untuk menyerang Eropa Barat, tetapi Manstein adalah satu-satunya orang yang mampu memahaminya.”
Hitler ketika di Kota Paris
Rencana manstein menciptakan kesimpulan dalam hal revolusi strategi militer pada pertengahan abad kedua puluh. Penggagas awal dikemukakan oleh Fuller dan Basil Liddel Hart. Rencana Manstein telah mempersembahkan teori baru kepada dunia tentang doktrin-doktrin militer Jerman selama abad kedua puluh dan Guderian adalah orang yang mampu mengaktualisasikan ide-ide Liddel Hart tersebut  ke dalam kenyataan: doktrin Blitzkrieg.

Sumber : Wikipedia
               Youtube
                tentangnazi

Komentar

Postingan Populer