Pertempuran Tarawa

Pertempuran tarawa


Pertempuran tarawa terjadi pada 20 - 23 November 1943. Setelah serangan Jepang ke Pearl Harbour, Amerika masuk kedalam Perang Pasifik melawan Jepang. AS mulai menahan ekspansi yang dilakukan oleh Jepang dengan kemenangan penting di Midway (Juni 1942) dan Guadalcanal (Agustus 1942 - 1943)di Pasifik Selatan. Kemudian AS berencana untuk mengambil Kepulauan Marshall dan Kepulauan Marian kemudian melaju ke Jepang.


Kepulauan Gilbert yang terdiri dari 16 Atol (Sebuah Pulau Koral) berada di dekat garis Khatulistiwa dipandang AS sebagai batu loncatan ke kepulauan Marshall dan menjadi target utama dari Kampanye Pasifik. Pada November 1943, AS meluncurkan sebuah operasi dengan kode Operasi Galvanic, dimana target utamanya adalah sebuah pulau kecil bernama Betio di Atol Tarawa yang terletak di Kepulauan Gilbert (AS juga mengirim sebuah pasukan kecil ke Makin Atoll sekitar 100 mil ke utara dari Tarawa Atoll). Pada akhir Desember 1941, Jepang telah menduduki pulau ini dan membangun benteng benteng di pulau Betio dan Kepulauan Gilbert.

19 November 1943, Kapal Perang Amerika telah tiba di dekat Tarawa. Angakatan Laut dan Udara telah merencanakan pengeboman pada esok hari dengan tujuan untuk melemahkan pertahanan Jepang dan membuka jalan bagi 18000 Marinir AS. Namun, pengambilan Tarawa terbukti lebih sulit dari pada yang telah diekspetasikan.


Tarawa merupakan Atol yang telah diperbentengi dengan kuat. Laksamana Keiji Shibasaki sangat percaya diri bahwa Tarawa tidak bisa direbut meski AS menggunakan 1 Juta Tentara dalam 100 Tahun. Tarawa sendiri telah dilengkapi dengan Senjata Anti Pesawat, Meriam Pantai, Senapan Mesin Ringan hingga Berat, Serta Tamk. Sekitar 4.500 tentara jepang yang mempertahankan pulau ini.


Kapal Perang AS telah tiba di dekat Atol Tarawa pada 19 November 1943, terdiri dari Kapal Perang (Battleship), Kapal Penjelajah, Kapal Perusak, serta 18.000 Marinir yang siap menyerang. Sebagian besar Landing Craft telah mampu mencapai pantai, namun sebagian mengalami kendala macet karena bertabrakan atau terkena terumbu karang, sehingga para marinir terpaksa turun dari Landing Craft dan menyeberangi laut dengan ketinggian air se dada ditambah lagi mereka ditengah tengah tembakan musuh. Banyak marinir yang sampai di pantai, tetapi sudah sangat kelelahan atau terluka serta kehilangan komunikasi karena radio mereka kemasukan oleh air laut sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi dengan pasukan pendukung. Pada akhir hari pertama, terdapat 5.000 marinir yang terjun kemedan perang, sekitar 1.500 marinir tewas dalam pertempuran.


Pada hari kedua pertempuran (21 November 1943). Serangan AS juga mengalami kendala karena air laut sedang pasang. Sekali lagi para Marinir harus meninggalkan landing craft mereka dan menyeberangi laut disertai tembakan senapan mesin dan penembak jitu musuh. Pada tengah hari AS melancarkan serangan ke posisi pertahanan Jepang dengan dilengkapi oleh tank, granat, dan penyembur api.

Pada hari ketiga pertempuran, 22 November, Marinir Amerika berjuang menghancurkan lubang pertahanan serta bunker - bunker Jepan. pada malam itu jepang melancarkan serangan Banzai tetapi sia sia, banyak tentara jepang yang bertempur sampai mati dari pada menyerah. Pada pagi hari 23 November 1943, 76 jam setelah invas, Batio dinyatakan aman.


Lebih dari 1000 marinir AS tewas dan sekitar 2.000 terluka setelah 3 hari bertempur. Namun, menurut John Costello, Para Komandan AS belajar dari pertempuran tarawa ini, diantaranya adalah kebutuhan pengintaian yang lebih baik, peningkatan kendaraan amfibi serta mengembangkan radio yang anti air.

  

Komentar

Entri Populer